ITTELKOMPWT.AC.ID – Mahasiswa Program Studi (Prodi) S1 Informatika Kampus Institut Teknologi Telkom Purwokerto (ITTP), Muhammad Lutfi Firdhaus berhasil merancang aplikasi pengukur kematangan papaya berbasis mobile. Aplikasi dikenalkan secara langsung di depan para pembimbing, penguji, dan sivitas akademika di Gedung DC (Digital Convergent) kampus ITTP.
Lutfi panggilan akrab mahasiswa perancang aplikasi, mengungkapkan, jika aplikasi yang dirancang merupakan aplikasi yang berasal dari ide dia sendiri, “Memang, bahwa aplikasi pengukur/identifikasi kematangan papaya dengan teknologi android berasal dari ide saya sendiri, ditambah melihat dari adanya fenomena, dimana para petani pepaya di era modern seperti sekarang ini, untuk mengukur kematangan pepaya masih dilakukan secara manual, ini terjadi ketika saya berkunjung ke petani pepaya yang berada di daerah Cilongok, Kabupaten Banyumas. Karena alasan tersebutlah saya berpikir perlu adanya suatu pembaharuan pada sistem pemilahan/sortir yang dilakukan para petani pepaya ketika mereka akan menjual dan memasarkan pepaya ke para konsumen,” ungkapnya.


“Teknologi yang diterapkan dalam sistem adalah teknologi perekaman citra melalui pengukuruan dari RGB (Red-Blue-Green) untuk mengetahui tingkat kemanisan (derajat brix) sehingga dalam aplikasi sangat penting perangkat smartphone memiliki fitur kamera. Teknologi pengolahan citra merupakan sebuah teknik yang biasanya digunakan untuk memproses citra atau gambar, dengan data gambar tersebut mendapatkan sebuah informasi tertentu dari gambar yang diamati. Teknologi tersebut dapat menetukan tingkat kematangan pada buah dengan dilihat dari warna kulitnya. Sedangkan untuk mengidentifikasi tingkat kematangan yang paling mudah dapat diidentifikasi yaitu dari warna kulit pada buah, dan warna kulit buah tersebut mengandung nilai RGB. Nilai RGB digunakan sebagai nilai acuan dalam melakukan sebuah penelitian tingkat kematangan pada buah pepaya, nantinya pada aplikasi akan mengirimkan data “Mengkal/Matang”, “Setengah Matang”, “Mentah” serta dilengkapi dengan munculnya tingkat kadar gula yang terkandung dalam pepaya. Sehingga harapannya dengan perancangan teknologi yang saya ciptakan ini, mampu menjadikan para petani pepaya memiliki pengetahuan akan teknologi kekinian, dan mampu memenuhi dari tantangan Revolousi Industri 4.0,” tambah mahasiswa yang gemar travelling ini.
Fauzan Romadlon S.T.P, M.Eng., dosen pembimbing mahasiswa tersebut mengatakan, “Aplikasi yang dirancang oleh mas Lutfi menginspirasi dan dapat dikembangkan, khusunya bagi para petani yang berada di Perkebunan Pepaya Cilongok, berguna dalam proses sortasi buah pepaya pada nantinya. Ini sesuai dengan tujuan dari mas Lutfi merancang aplikasi untuk mengukur tingkat kematang pada buah pepaya berbasis mobile” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *