ITTELKOM-PWT.AC.ID – Salah satu Dosen Teknik Industri kampus Institut Teknologi Telkom Purwokerto yang juga aktif dalam beragam kegiatan sosial, Achmad Zaki Yamani S.T., M.T., belum lama ini (14/11) mengikuti program Santripreneur di Nusa Tenggara Barat (NTB). Santripreneur atau pengusaha santri merupakan salah satu upaya untuk menjadikan santri pondok pesantren menjadi wirausaha atau berbisnis.

Dalam program tersebut, agenda utama dari dosen IT Telkom Purwokerto yang juga salah satu anggota dari tim ahli BAKTI (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) Kemkominfo (Kementerian Komunikasi dan Informasi) akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penyelenggaraan kegiatan pemberdayaan ekonomi berbasis digital di lingkungan pondok pesantren Al – Islahuddiny. Kegiatan Monev adalah sebagai upaya untuk meningkatkan kecakapan Sumber Daya Manusia di Indonesia Bidang Ekonomi berbasis Digital.

“Daerah ini memang salah satu dari sekian banyak yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Adanya program santripreneur harapannya dapat mendorong tumbuhnya ekonomi berbasis digitalisasi,” ungkap Ahmad Zaki.

Dia menambahkan, Ponpes Al – Islahuddiny yang merupakan salah satu pondok terbesar dan tertua di Kabupaten Lombok Barat memiliki unit pendidikan serta dukungan infrastruktur maupun suprastruktur yang sudah sangat memadai, dari tingkat MI (Madrasah Ibtidaiyyah) hingga jenjang Perguruan Tinggi, yakni STID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) dirasa perlu menjadi role model dalam upaya membangun kemandirian santri melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi berbasis digital di lingkungan pondok pesantren,” tambahnya.

Perkembangan teknologi ICT (Information Communication and Technology) yang eksponensial dan begitu cepat, mengharuskan pondok pesantren turut mempercepat langkah untuk merespon pergeseran ekosistem pendidikan, ekonomi serta dakwah agar tetap relevan dan memberikan kemanfaatan bagi kemandirian pondok pesantren kedepanya, sehingga program santriprenuer perlu di perluas coverage serta kualitas programnya, sehingga bukan tidak mungkin kelak akan terwujud suatu kondisi dimana santri mandiri, pondok pesantren berdikari. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *