Mahasiswa RPL Buat Alat Pencacah Sampah

Mahasiswa ITTP kembali menciptakan sebuah inovasi teknologi berupa Alat Pencacah Sampah. Kali ini ide datang dari mahasiswa prodi Rekayasa Perangkat Lunak angkatan 2020, diantaranya Dinda Maylan Setianti, Brahmasta Bagus, Afifatunni’mah, dan Alif Rizki Ramdhana.

Bermula dari keresahan mereka mengenai permasalahan pengolahan sampah yang ada di Indonesia, keempat mahasiswa ini memiliki ide untuk mengolah dan memilah sampah dengan menggunakan alat pencacah sampah. Atas arahan dari dosen pembimbing mereka, Aditya Wijayanto dan Umar, alat tersebut disertakan object recognition atau alat deteksi saat proses memilah sampah. Sehingga alat ini dapat digunakan untuk memilah sampah organik dan non organik, yang mana hasil sampah yang dicacah tersebut dapat didaur ulang misalnya digunakan untuk pakan ternak, bahan pupuk kompos, bahan pembuatan biogas atau kerajinan.

“Dengan alat deteksi, saat pengguna mengarahkan objek ke kamera, nantinya kamera akan membaca dan mengirimkan sinyal sehingga pintu sampah akan terbuka apabila objek sampah jenis organik. Sedangkan objek sampah berjenis non-organik yang terdeteksi pintu sampah tidak akan terbuka” jelas Dinda, salah satu tim anggota tim.

Mahasiswa RPL sedang menghubungkan mesin dengan camera

Pembuatan alatnya sendiri memakan waktu hingga tiga bulan. Dimulai dari proses desain, pembuatan mesin, hingga ke proses pembuatan program pada alat deteksi sampah. Perjalanan mereka dalam membuat alat ini tidak mudah. Selain pada proses pembuatan mesin yang cukup lama, mereka sempat kesulitan dalam membuat program pendeteksi sampah yang sesuai dengan komponen IOT mereka. Salah satunya ialah mengganti komposen Arduino ke komponen Raspberry pi, hal ini dikarenakan komponen Raspeberry pi lebih mendukung dengan program Python untuk object recognation ataupun detection dibandingkan menggunakan Arduino.

Namun kerja keras mereka berbuah manis. Inovasi tersebut berhasil membawa mereka meraih program pendanaan PKM dari Kemendikbud Ristek. Tentunya ini tak luput dari dukungan berbagai pihak yang juga turut membantu mereka.

Adapun target dari penggunaan alat pencacah ini ialah masyarakat di lingkungan RT maupun RW yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dan anak-anak yang akan didampingi oleh orang tua-nya.

“Sambil mengenal jenis sampah, anak anak bisa mengarahkan objek yg dipegang ke depan kamera. Kemudian, jika terdeteksi sampah organik orang tuanya dapat membantu memasukkan ke dalam mesin pencacah. Dan jika terdeteksi anorganik, objek bisa di daur ulang dan dijadikan kerjinan atau bahan produksi lainnya.” tambah Dinda ketika ditanyakan mengenai kegunaan dari alat pencacah sampah. (TS)

Komentar

Baca Berita terkait