ITTELKOM-PURWOKERTO.AC.ID – Jamur merupakan salah satu hasil pertanian yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia maupun manca negara. Proses pertumbuhan jamur memerlukan suatu treatment khusus, terlebih karena jamur tidak tahan terhadap tempat yang panas. Sehingga kelembaban dan suhu media tanam serta rumah atau kumbung jamur harus betul – betul dijaga.

Melalui ide kreatif salah seorang dosen IT Telkom Purwokerto, Sigit Pramono M.T, tercetuslah sebuah karya inovasi yang akan memudahkan perawatan jamur bagi para petani, Egrotek. Egrotek merupakan solusi baru dalam pengendalian kelembaban pada kumbung jamur. Perangkat ini memadukan antara otomatisasi Nozzle Sprayer dan teknologi Internet of Things (IoT) sehingga kelembaban dapat dimonitoring dan real time dari jarak jauh dan pompa Nozle Sprayer dikendalikan dari Cloud (internet).

Produk Egrotek terdiri dari dua perangkat. Yang pertama adalah berupa aplikasi yang dapat diinstal di android. Kedua, perangkat yang ditempatkan di rumah jamur. Fitur yang ada di Egrotek terbilang sangat kekinian dan disesuaikan dengan kebutuhan di era millenial seperti sekarang ini. “Didalamnya ada menu yang digunakan untuk setting dan monitoring kelembaban dan suhu, sehingga penggunanya dapat menyesuaikan kadar suhu dan kelembaban yang diinginkan. Selanjutnya, perubahan suhu dan kelembaban yang dibaca oleh sistem ditampilkan secara realtime dalam bentuk grafik yang tentunya lebih mudah untuk dipahami. Keunggulan lainnya, egrotek juga dilengkapi dengan fitur pencatatan aktifitas perawatan jamur seperti waktu tanam, jumlah kumbung, hingga data hasil panen. Semuanya terecord dengan baik di dalam aplikasinya” jelas Sigit Pramono, MT.

Dengan memanfaatkan teknologi internet of Things (IoT), perangkat ini memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan Selular tanpa adanya campur tangan manusia. Kondisi suhu dan kelembaban dapat dimonitoring secara real time dari manapun dan kapanpun menggunakan Personal Computer (PC) atau Smartphone, juga memanfaatkan sistem sensor suhu dan kelembaban dengan teknologi digital sehingga memiliki akurasi dan resolusi tinggi. Perubahan suhu terkecil yang masih dapat terbaca oleh sensor sebesar 0,1 Celcius dengan tingkat akurasi ± 0,5 Celcius. Sedangkan sensor kelembaban memiliki resolusi 0,1 % RH dengan akurasi ± 2 % RH.

Egrotek dikembangkan oleh Sigit Pramono, M.T bersama dengan dua mahasiswa IT Telkom Purwokerto yaitu Chandra Maulana mahasiswa prodi S1 Teknik Telekomunikasi dan Alhamda Adisoka Mahasiswa prodi S1 Informatika.

EGROTEK BANTU TINGKATKAN HASIL PANEN  

Sejauh ini Egrotek sudah diimplementasikan di masyarakat kepada para petani jamur di beberapa wilayah di Indonesia. Salah satu penggunanya adalah Taufikurakhman, pemilik Agro Jamur di daerah Baturraden, Banyumas. Sebelum menggunakan Egrotek, untuk menjaga kelembaban rumah jamur prosesnya masih sangat manual. Dengan melakukan penyiraman 2x sehari dan menghitung kadar kelembaban lingkungan.

Menurut Taufik, kehadiran Egrotek sangat membantu sekali dalam usaha merawat jamurnya. “Produk ini sangat membantu kami dalam usaha merawat jamur, karena sangat praktis, efisien dan mengurangi biaya tenaga kerja. Produktifitas panen jamur kami juga semakin meningkat, baik jamur tiram, jamur kuping maupun jamur merang.”

Belum lama ini (10/9) BAPPEDA (Badan Perencanaan dan Pengembangan Daerah) Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Kasubid Penerapan Inovasi dan Teknologi, Eny Hari Widowati M.Si, bersama dua staffnya, juga menyempatkan untuk monitoring penggunaan Egrotek oleh para petani jamur di daerah Baturraden. BAPPEDA sangat antusias dengan hasil karya inovasi dosen IT Telkom Purwokerto ini. “Kami sangat mengapresiasi setiap karya inovasi yang dihasilkan oleh masyarakat, temasuk Egrotek ini. Kami terus melakukan pemantauan terhadap pengembangan Egrotek. Dampaknya memang positif untuk para petani jamur, terbukti bahwa hasil panennya meningkat karena pertumbuhan jamurnya memang termonitor dengan baik.” Ungkap Eny Hari Widowati. BAPPEDA juga berniat memborong Egrotek untuk dihibahkan kepada para petani jamur di Purbalingga, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *